Friday, September 11, 2015

KARINDING (INSTRUMENT MUSIC)

Karinding, alat musik tradisional Sunda
Karinding, alat musik tradisional Sunda

Karinding merupakan salah satu alat musik tiup tradisional Sunda. Ada beberapa tempat yang biasa membuat karinding, seperti di lingkung Citamiang, Pasirmukti, (Tasikmalaya), Lewo Malangbong, (Garut), dan Cikalongkulon (Cianjur) yang dibuat dari pelepah kawung (enau). Di Limbangan dan Cililin karinding dibujat dari bambu, dan yang menggunakannya adalah para perempuan, dilihat dari bentuknya saperti tusuk biar mudah ditusukan di sanggul rambut. Dann bahan enau kebanyakan dipakai oleh lelaki, bentuknya lebih pendek biar bisa diselipkan dalam wadah rokok. Bentuk karinding ada tiga ruas.
Awalnya karinding adalah alat yang digunakan oleh para karuhun untuk mengusir hama di sawah, bunyinya yang low decible sangat merusak konsentrasi hama. Karena ia mengeluarkan bunyi tertentu, maka disebutlah ia sebagai alat musik. Bukan hanya digunakan untuk kepentingan bersawah, para karuhun memainkan karinding ini dalam ritual atau upaca adat. Maka tak heran jika sekarang pun karinding masih digunakan sebagai pengiring pembacaan rajah. Bahkan, konon, karinding ini digunakan oleh para kaum lelaki untuk merayu atau memikat hati wanita yang disukai. Jika keterangan ini benar maka dapat kita duga bahwa karinding, pada saat itu, adalah alat musik yang popular di kalangan anak muda hingga para gadis pun akan memberi nilai lebih pada jejaka yang piawai memainkannya. Mungkin keberadaannya saat ini seperti gitar, piano, dan alat-alat musik modern-popular saat ini.
Suara yang dihasilkan dari getaran jarum karinding biasanya bersuara rendah low decible. Suaranya dihasilkan dari gesekan pegangan karinding dan ujung jari yang ditepuk-tepakkan. Suara yang keluar biasanya terdengar seperti suara wereng, belalang, jangkrik, burung, dan lain-lain. Yang jaman sekarang dikenal dengan istilah ultrasonik.
Material yang digunakan untuk membuat karinding (di wilayah Jawa Barat), ada dua jenis: pelepah kawung (aren) dan bambu. Jenis bahan dan jenis disain bentuk karinding ini menunjukan perbedaan usia, tempat, dan sebagai perbedaan gender pemakai. Semisal bahan bambu yang lebih menyerupai susuk sanggul, ini untuk perempuan, karena konon ibu-ibu menyimpannya dengan di tancapkan disanggul. Sedang yang laki-laki menggunakan pelapah kawung dengan ukuran lebih pendek, karena biasa disimpan di tempat mereka menyimpan tembakau. Tetapi juga sebagai perbedaan tempat dimana dibuatnya, seperti di wilayah Priangan Timur, karinding lebih banyak menggunakan bahan bambu karena bahan ini menjadi bagian dari kehidupannya.
Karinding umumnya berukuran: panjang 10 cm dan lebar 2 cm. Namun ukuran ini tak berlaku mutlak; tergantung selera dari pengguna dan pembuatnya—karena ukuran ini sedikit banyak akan berpengaruh terhadap bunyi yang diproduksi.
Karinding terbagi menjadi tiga ruas: ruas pertama menjadi tempat mengetuk karinding dan menimbulkan getaran di ruas tengah. Di ruas tengah ada bagian bambu yang dipotong hingga bergetar saat karinding diketuk dengan jari. Dan ruas ke tiga (paling kiri) berfungsi sebagai pegangan.

Sejarah Karinding
Sulit dilacak kapan pertama kali karinding hadir di masyarakat Sunda karena tak ada sumber tertulis yang meyebutkan secara pasti kapan waditra ini mulai ada. Satu tinjauan pernah dibuat Ragil Soeripto dan dimuat dalam Buletin Kebudayaan Jawa Barat, Kawit, tahun 1992, “Rachmat Ruchiyat berkesimpulan bahwa di samping berkembangnya musik bambu di Indonesia erat sekali kaitannya dengan perpindahan penduduk dari daratan Asia tahun 1000 SM, bahkan yang jauh sebelumnya (10.000 – 5.000 SM) sudah ada suku bangsa yang telah menetap juga dari daratan Asia yang sisa-sisanya antara lain di Irian Jaya ternyata memiliki berbagai alat musik dari bambu, antara lain menyerupai karinding (Pasundan) atau rinding atau genggong (Jawa Tengah dan Jawa Timur) atau Bali Ginggung.” Dari kutipan tersebut, waditra bambu sejenis karinding sebenarnya sudah hadir di Indonesia sejak 10.000 – 5.000 SM, namun tentang keberadaan karinding di tanah Pasundan, perlu tinjauan sejarah yang lebih khusus.”
Beberapa sumber menyatakan bahwa karinding telah ada bahkan sebelum adanya kecapi. Jika kecapi telah berusia sekira lima ratus tahunan maka karinding diperkirakan telah ada sejak enam abad yang lampau. Dan ternyata karinding pun bukan hanya ada di Jawa Barat atau Priangan saja, melainkan dimiliki berbagai suku atau daerah di tanah air, bahkan berbagai suku di bangsa lain pun memiliki alat musik ini–hanya berbeda namanya saja. Di Bali bernama genggong, Jawa Tengah menamainya rinding, karimbi di Kalimantan, dan beberapa tempat di “luar” menamainya dengan zuesharp (harpanya dewa Zeus). Dan istilah musik modern biasa menyebut karinding ini dengan sebutan harpa mulut (mouth harp). Dari sisi produksi suara pun tak jauh berbeda, hanya cara memainkannya saja yang sedikit berlainan; ada yang di trim (di getarkan dengan di sentir), di tap (dipukul), dan ada pula yang di tarik dengan menggunakan benang. Sedangkan karinding yang di temui di tataran Sunda dimainkan dengan cara di tap atau dipukul.
Biasanya karinding itu dimainkan pada malam hari oleh orang-orang sambil menunggui ladangnya di hutan atau di bukit-bukit, saling bersautan antara bukit yang satu dan bukit lainnya. Alat ini ternyata bukan cuma menjadi pengusir sepi tapi juga ternyata berfungsi mengusir hama. Suara yang dihasilkan oleh karinding ternyata menghasilkan gelombang low decibel yang menyakitkan hama sehingga mereka menjauhi ladang pertanian.
Di kalangan para pemuda Tatar Sunda, karinding juga populer sebagai alat musik pergaulan. Dahulu, jika sang jejaka bertandang ke rumah sang gadis, ia akan mendemonstrasikan permainan karinding untuk memikat sang gadis. Dalam hal percintaan, karinding juga  berkembang dengan kisah-kisah romantis—dan juga tragis—di belakangnya.
Jenis bahan dan jenis disain karinding menunjukan perbedaan usia, tempat, jenis kelamin pemakai. Karinding yang menyerupai susuk sanggul dibuat untuk perempuan, sedang yang laki-laki menggunakan pelapah kawung dengan ukuran lebih pendek, agar bisa disimpan di tempat tembakau. Bahan juga menunjukkan tempat pembuatan karinding. Di Priangan Timur, misalnya, karinding menggunakan bahan bambu. Di kawasan lain di Indonesia, karinding disebut juga rinding (Yogyakarta), genggong (Bali), dunga (Sulawesi), karindang (Kalimantan) atau alat sejenis dengan bahan baja bernama jawharp di kawasan Nepal dan Eropa dan chang di Cina dengan bahan kuningan. Selain ditabuh, karinding juga ada yang dimainkan dengan cara dicolek atau disintir.
Berikut adalah beberapa definisi karinding yang telah dirumuskan,
  1. Tim Penulisan Naskah Pengembangan Media Kebudayaan Jawa Barat (1977:75) menyebutkan, “karinding merupakan alat musik yang terbuat dari pelepah kawung atau bambu, cara memainkannya dipegang oleh tangan kiri, ditempelkan ke mulut. Dalam hal ini mulut sebagai resonator dan pengatur tinggi rendahnya nada. Pangkal karinding dekat mulut dipukul-pukul oleh jari tangan kanan untuk menggetarkan lidah getarnya (cecet ucing), sehingga terdengarlah suara alat musik tersebut.”
  2. Enoch Atmadibrata dkk (2006:114) menyebutkan, ”alat musik bernama karinding ini berbentuk lempengan kayu enau atau bambu yang dibentuk sedemikian rupa dengan cara mengiris bagain tengahnya sehigga terlihat menjulur seperti lidah, yang apabila dipukul akan bergetar dan menimbulkan suara. Untuk memperkeras dan mengatur tinggi rendahnya bunyi yang dihasilkan, yang diatur adalah rongga mulut yang berfungsi sebagai resonator.”
  3. R. A. Danadibrata (2006:322) menyebutkan, “Karinding ialah nama alat pukul yang terbut dari bahan bambu atau palapah kawung yang sangat tipis; karinding dibunyikan dengan cara ditempekan ke bibir atas dan bawah seperti argol (alat musik yang berbunyi bila ditiup dan dihisap sambil digeser-geser di antara bibir atas dan bawah seperti makan jagung, sama seperti karinding dan harmonica) dan suara yang dihasilkan dari hisapan dan hembusan rongga mulut; untuk menghasilkan tinggi rendahnya nada ketika karinding sedang bergetar lidah getarnya karena hisapan atau hembusan mulut, ujung karinding sebelah kanan dipukul pelan supaya bergetarnya cepat atau lambat.”
  4. Ensiklopedia Sunda menyebutkan, “Karinding adalah alat bunyi-bunyian dalam karawitan Sunda yang dibuat dari pelepah aren atau bambu, dibunyikan dengan pukulan jari tengah dengan rongga mulut sebagai resonator. Dahulu dipergunakan sebagai sarana hiburan para penggembala kerbau atau biri-biri di kampung-kampung. Di daerah Banten, karinding dipergunakan oleh remaja sebagai alat komunikasi waktu mencari kekasih. Alat ini dibunyikan di serambi rumah ketika sore hari saat bersantai setelah bekerja, para gadis yang mendengarnya biasanya mendekati para si penabuh alat itu.”
  5. Buku Khazanah Seni Pertunjukan Jawa Barat menyebutkan, “Karinding merupakan alat kesenian yang terbuat dari pohon enau atau bambu. alat ini bentuknya kecil namun bunyinya cukup nyaring. Selain nama alat, karinding juga merupakan nama seni pertunjukan yang menggunakan waditra karinding. Alat musik berupa karinding ini berbentuk lempengan kayu enau atau bambu yang dibentuk sedemikian rupa dengan cara mengiris bagian tengahnya sehingga terlihat menjulur seperti lidah. Apabila dipukul akan bergetar dan menimbulkan suara. Untuk memperkeras dan mengatur tinggi rendahnya bunyi yang dihasilkan, yang diatur adalah rongga mulutnya, yang berfungsi sebagai resonator.”
  6. Karinding memiliki dua alternatif bahan baku yaitu bambu dan pelepah pohon aren atau kayu enau. Di Tasikmalaya, penyebutan karinding hanya digunakan kepada karinding berbahan baku pelepah aren, sedangkan yang berbahan baku bambu disebut kareng. Saat ini penyebutkan kareng jarang ditemui, mungkin karena faktor kebiasaan pelafalan nama “karinding”. Jaap Kunts dalam buku Music in Java menebutkan, “Tasik district the jew’s harp is called karinding only when cut from aren wood; when made from bamboo it is there called kareng,” Penggunaan bahan pelepah aren biasanya ada di Cianjur dan Tasikmalaya, sementara itu bahan bambu biasanya di Ciwidey, Bandung, Garut, dan Sumedang.
Peneliti karinding, Giar Gardan tahun 2012 dalam karya skripsinya berjudul Kelompok Musik Karinding Attack di Bandung Jawa Barat, mencatat ada dua klasifikasi waditra karinding berdasarkan jenisnya, yaitu sebagai waditra jenis ideophone dan aerophone.  Jenis aerophone adalah alat musik yang memiliki prinsip kerja hembusan udara, sementara jenis ideophone adalah ragam alat musik yang badannya sendiri merupakan sumber bunyinya. Karinding termasuk ke dalam jenis ideophone karena karinding dapat berbunyi ketika cecet ucing bergetar setelah ditabuh di bagian paneunggeulan. Semua bagian itu merupakan kesatuan dari badan karinding sendiri. Masuk ke dalam jenis aerophone karena karinding berbunyi menggunakan mulut sebagai resonator yang menghembuskan nafas sehingga pengaturan suara bisa dikendalikan lewat hembusan nafas. Prinsip pemikiran ini juga termuat dalam www.danmoi.com (world music instrument), “it is difficult to place the jew’s harp in the system of musical instruments. On the other hand it is classified as plucked idiophone, together with the musical clocks : the plucked part of the instrument sounds itself. On the other hand, the jew’s harp belongs to the aerophones.”
Sebagai ideophone, Curt Sach dan Hornbostel mengungkapkan karinding termasuk ke dalam waditra sejenis jew’s harp yang diklasifikasi ke dalam plucked ideophone atau ideophone yang bergetar dengan cara dipetik. Dalam plucked ideophone, terdapat kategori yang disebut lamellaphone, yakni waditra yang menggunakan lamella elastik dalam bentuk frame sebagai sumber bunyinya. Klasifikasi lainnya dicetuskan oleh David Reck yaitu sebagai linguaphone karena karinding menggunakan rongga mulut dan lidah sebagai sarana bunyinya.
Kehadiran karinding di masyarakat Sunda tak jauh dari kebudayaan agaris dan kedekatan mereka dengan kayu dan bambu. Dua bahan ini terutama dianggap sebagai tanaman yang memberikan manfaat pada wajah budaya Indonesia karena digunakan dalam kehidupan keseharian masyarakatnya dan bisa digunakan seluruh bagiannya. Bahan-bahan ini kemudian juga menjadi sumber daya yang melahirkan karya seni sebagai sarana pengantar upacara-upacara ritual, pergaulan, hiburan, pengungkapan nilai-nilai pandangan hidup, juga sebagai alat politik persahabatan antar bangsa. Beberapa sesepuh juga ada yang berpendapat, bentuk karinding yang dibuat para pembuat karinding awal terinspirasi dari alat bebunyian terbuat dari rumput berdaun lebar yang lazim dimainkan anak-anak gembala.

KARINDING DALAM NASKAH PENDAKIAN SRI AJNYANA
Catatan tertua mengenai karinding terdapat dalam naskah Sunda berjudul Pendakian Sri Ajnyana. Naskah ini terdapat dalam buku Tiga Pesona Sunda Kuna yang ditulis oleh J. Noorduyn dan A. Teeuw (Pustaka Jaya, 2009). Dalam naskah itu ditulis,
Hurung subang di hulueun - Kacapi di kajuaran - Kari(n)ding dip ago sanding - Giringsing di pagulingan - Deung ka(m)puh pamarungkutan
Artinya :
Giwang bercahaya di ujung kepala - Kecapi di dekat tempat tidur - Karinding di pago sanding (palang dada) - Giringsing di atas tempat tidur - Dan selimut
Naskah “Pendakian Sri Ajnyana” (PSA) terdiri atas 24 lempir. Tampaknya teks di dalamnya lengkap, termasuk kolofon singkat yang menyatakan bahwa naskah ini ditulis pada bulan ke delapan, di mandalan Beutung Pamaringinan (di) Cisanti.
Setelah naskah Pendakian Sri Ajnyana, penulis belum lagi menemukan naskah lain yang menyebutkan karinding. Beberapa keterangan mengenai karinding terungkap melalui cerita lisan yang tersebar di seluruh Priangan dalam kisah yang berbeda-beda.

Cara Memainkan Karinding
Karinding konon alat musik yang telah digunakan karuhun Sunda sejak dahulu kala. Alat musik ini terbuat dari pelepah aren atau bambu berukuran 20 x 1 cm yang dibuat menjadi tiga bagian yaitu bagian tempat memegang karinding (pangcepengan), jarum tempat keluarnya nada (disebut cecet ucing atau ekor kucing serta pembatas jarumnya, dan bagian ujung yang disebut panenggeul (pemukul). Jika bagian panenggeul ditabuh, maka bagian jarum akan bergetar dan ketika dirapatkan ke rongga mulut, maka akan menghasilkan bunyi yang khas. Bunyi tersebut bisa diatur tergantung bentuk rongga mulut, kedalaman resonansi, tutup buka kerongkongan, atau hembusan dan tarikan napas.
Karinding disimpan di bibir, terus tepuk bagian pemukulnya biar tercipta resonansi suara. Karindng biasanya dimainkan secara solo atau grup (2 sampai 5 orang). Seroang diantaranya disebut pengatur nada atau pengatur ritem. Di daerah Ciawi, dulunya karinding dimainkan bersamaan takokak (alat musik bentuknya mirip daun).
Secara konvensional menurut penuturan Abah Olot nada atau pirigan dalam memainkan karinding ada 4 jenis, yaitu: tonggeret, gogondangan, rereogan, dan iring-iringan.
Cara memainkan karinding cukup sederhana, yaitu dengan menempelkan ruas tengah karinding di depan mulut yang agak terbuka, lalu memukul atau menyentir ujung ruas paling kanan karinding dengan satu jari hingga “jarum” karinding pun bergetar secara intens. Dari getar atau vibra “jarum” itulah dihasilkan suara yang nanti diresonansi oleh mulut. Suara yang dikeluarkan akan tergantung dari rongga mulut, nafas, dan lidah. Secara konvensional—menurut penuturan Abah Olot–nada atau pirigan dalam memainkan karinding ada empat jenis, yaitu: tonggeret, gogondangan, rereogan, dan iring-iringan.

Fungsi Karinding
Karinding yaitu alat buat mengusir hama di sawah. Suara yang dihasilkan dari getaran jarum karinding biasanya bersuara rendah low decible. Suaranya dihasilkan dari gesekan pegangan karinding dan ujung jari yang ditepuk-tepakkan. Suara yang keluar biasanya terdengar seperti suara wereng, belalang, jangkrik, burung, dan lain-lain. Yang zaman sekarang dikenal dengan istilah ultrasonik. Biar betah di sawah, cara membunyikannya menggunakan mulut sehingga resonansina menjadi musik. Sekarang karinding biasa digabungkan dengan alat musik lainnya.
Bedanya membunyikan karinding dengan alat musik jenis mouth harp lainnya yaitu pada tepukan. Kalau yang lain itu disentil. Kalau cara ditepuk dapat mengandung nada yang berbeda-beda. Ketukan dari alat musik karinding disebutnya Rahel, yaitu untuk membedakan siapa yang lebih dulu menepuk dan selanjutnya. Yang pertama menggunakan rahèl kesatu, yang kedua menggunakan rahel kedua, dan seterusnya. Biasanya suara yang dihasilkan oleh karinding menghasilkan berbagai macam suara, diantaranya suara kendang, goong, saron bonang atau bass, rhytm, melodi dan lain-lain. Bahkan karinding bisa membuat lagu sendiri, sebab cara menepuknya beda dengan suara pada mulut yang bisa divariasikan bisa memudahkan kita dalam menghasilkan suara yang warna-warni. Kata orang tua dahulu, dulu menyanyikan lagu bisa pakai karinding, Kalau kita sudah mahir mainkan suara karinding, pasti akan menemukan atau menghasilkan suara buat berbicara, tetapi suara yang keluar seperti suara robotik.
Reff:.
https://id.wikipedia.org/wiki/Karinding
https://su.wikipedia.org/wiki/Karinding
http://pandoe.rumahseni2.net/nusantara/sunda/karinding/
http://kelaskarinding.tumblr.com/post/40163943562/sejarah-karinding-klasik-hingga-2010
http://vovworld.vn/id-ID/Rumah-ASEAN/Karinding-instrumen-musik-yang-mempertahankan-identitas-budaya-Indonesia/262782.vov

Thursday, August 13, 2015

Contoh cerita perjalanan (Lalampahan)


“Lalampahan ka Situs sejarah Ciung Wanara”


     Dinten rebo kaping 10 Juni 2015, kuring mangkat ka Situs sejarah Karangkamulyan sabada lohor. Kuring mangkat ti Cisaga dugi  ka Karangkamulyan tabuh hiji. Di Karangkamulyan salah sahiji nu munggaran kapanggih nya eta goong gede tanda Perdamaian Dunia.

 Saengeus mayar karcis, lalampahan di situs Karangkamulyan diteruskeun ka Pangcalikan.

Palinggih (pangcalikan). Panglinggih mangrupa hiji batu bertingkat-tingkat boga warna bodas sarta ngawangun segi opat. Kaasup kana golongan Yani (tempat pamujaan) anu tempatna tibalik dipake pikeun altar.
Dihandapeun Yani kasebut aya sawatara batu leutik anu saolah-olah minangka panyangga. Kukituna mere gambaran kawas hiji dolmen (kubur batu) tempatna aya dina hiji struktur tembok anu rubakna 175 x 5 meter.

Ti dinya teras mapah dugi ka Makam Sanghyang Bedil.
Tempat anu disebut “Sanghyang Bedil” mangrupa hiji rohangan anu dikurilingan ku tembok kurang leuwih 80cm. Panto nyanghareup ka beulah kaler. Dihereup panto asup aya struktur batu anu fungsina minangka aling (schuter). Dijero rohangan ieu aya dua buah menhir anu perenahna diluhur taneuh unggal ukurannana 69 cm x 40 cm sarta 20 x 8 cm. Bentukna nempokeun talari megalitik.
Nurutkeun masyarakat kira-kira “Sanghyang Bedil” bisa dijadikeun pertanda datangna hiji kajadian utama lamun ditempat eta ngaluarkeun hiji letusan. Tapi ayeuna pertanda eta geus euweuh deui.
Saentos ti Sanghyang bedil, lalampahan diteraskeun ka tempat panyabungan hayam (tempat ngadu hayam).
Tempat ieu perenahna dipelebah kidul ti lokasi “Sanghyang Bedil” kira-kira 5 meter jarakna. Ti panto asup nyaeta mangrupa rohang kabuka.
Masyarakat nganggap tempat ieu mangrupa tempat sabung hayam Ciung Wanara jeung hayam raja. Salian eta mangrupa tempat khusus jang milih raja anu dilakukeun ku sistim demokrasi.
Ti panyabungan hayam lalampahan di Situs Karangkamulyan teh diteraskeun ka panyandaan.
Bagun tina menhir jeung dolmen lokana dilingkung ku  batu nu nyusun anu mangrupikeun struktur tembok. Ukuranna 120 x 30 cm. Mun ceuk carita tempat ieu mangrupa tempat dilahirkeunnana Ciung Wanara. Ditempat eta Ciung Wanara dilahirkeun ku Dewi Naganingrum. Dewi  Naganingrum nyanda (nyandar) dina ieu loka. Masyarakat ngabogaan mitos kana tempat ieu. Sabagena masyarakat percaya aya ibu-ibu anu acan boga budak jeung hayang boga budak, kudu nyandar ditempat eta.
 Ti Panyandaan, bari istirahat lalampahan kuring ka Cikahuripan.
Diloka ieu teu aya tanda-tanda ayana paninggalan arkeologis. Tapi ngan mangrupakeun sumur nu tempatna deukeut jeung dua walungan nyaeta Citanduy jeung Cimuntur. Sumur ieu disebut Cikahuripan nu eusina cai kahuripan. Sumur ieu mangrupakeun sumur abadi. Artina can pernah saat sapanjang taun.
 Tidinya diteraskeun ka Makam Adipati Panaekan.
Di loka makam Adipati Panaekan ieu teu aya ciri-ciri ayana paninggalan arkeologis. Ngan mangrupa urutan batu walungan. Dipati panaekan nyaeta raja galuh gara Tengah anu aya di Cineam jeung meunang gelar Adipati ti Sultan Agung Raja Mataram.
 Abi sareng Tika anjog dugi ka patimuan Sipatahunan.
 

 Diditu abi sareng Tika seueur ningali monyet sato anu di lindungi ku Pamarentah Kabupaten Ciamis.


Carita Ciung Wanara ti Karangkamulyan
Numutkeun carita ti pamandu (guide) di situs Karangkamulyan, carita Karangkamulyan teh kinten-kinten spaertos kieu:
“Kacaturkeun di Karajaan Galuh. Anu ngaheuyeuk dayeuh waktu harita téh nya éta Prabu Barma Wijaya kusumah. Anjeunna boga permaisuri dua. Nu kahiji Déwi Naganingrum, ari nu kadua Déwi Pangrenyep. Harita duanana keur kakandungan.
Barang nepi kana waktuna, Déwi Pangrenyep ngalahirkeun. Budakna lalaki kasép jeung mulus, dingaranan Hariang Banga. Tilu bulan ti harita, Déwi Naganingrum ogé ngalahirkeun, diparajian ku Déwi Pangrenyep. Orokna lalaki deuih. Tapi ku Déwi Pangrenyep diganti ku anak anjing, nepi ka saolah-olah Déwi Naganingrum téh ngalahirkeun anak anjing. Ari orok nu saéstuna diasupkeun kana kandaga dibarengan ku endog hayam sahiji, terus dipalidkeun ka walungan Citanduy.
Mireungeuh kaayaan kitu, Sang Prabu kacida ambekna ka Déwi Naganingrum. Terus nitah Ki Léngsér supaya maéhan Déwi Naganingrum, lantaran dianggap geus ngawiwirang raja pédah ngalahirkeun anak anjing. Déwi Naganingrum dibawa ku Léngsér, tapi henteu dipaéhan. Ku Léngsér disélongkeun ka leuweung anu jauh ti dayeuh Galuh.
Ari kandaga anu dipalidkeun téa, nyangsang dina badodon tataheunan lauk Aki jeung Nini Balangantrang. Barang Aki jeung Nini Balangantrang néang tataheunanana kacida bungahna meunang kandaga téh. Leuwih-leuwih sanggeus nyaho yén di jerona aya orok alaki anu mulus tur kasép. Gancangna budak téh dirawu dipangku, dibawa ka lemburna nya éta Lembur Geger Sunten, sarta diaku anak.
Kocapkeun budak téh geus gedé. Tapi masih kénéh can dingaranan. Hiji poé budak téh milu ka leuweung jeung Aki Balangantrang. Nénjo manuk nu alus rupana, nanyakeun ka Aki Balangantrang ngaranna éta manuk. Dijawab ku Aki éta téh ngaranna manuk ciung. Tuluy nénjo monyét. Nanyakeun deui ngaranna. Dijawab deui ku Si Aki, éta téh ngaranna wanara. Budak téh resepeun kana éta ngaran, tuluy baé ménta supaya manéhna dingaranan Ciung Wanara. Aki jeung Nini Balangantrang satuju.
Ayeuna Ciung Wanara geus jadi pamuda anu kasép sarta gagah pilih tanding. Ari endogna téa, disileungleuman ku Nagawiru ti Gunung Padang, nepi ka megarna. Ayeuna geus jadi hayam jago anu alus tur pikalucueun.
Dina hiji poé, Ciung Wanara amitan ka Aki jeung Nini Balangantrang, sabab rék nepungan raja di Galuh. Inditna bari ngélék hayam jago téa. Barang nepi ka alun-alun amprok jeung Patih Purawesi katut Patih Puragading. Nénjo Ciung Wanara mawa hayam jago, éta dua patih ngajak ngadu hayam. Ku Ciung Wanara dilayanan. Pruk baé hayam téh diadukeun. Hayam patih éléh nepi ka paéhna. Patih dua ngambek, barang rék ngarontok, Ciung Wanara ngaleungit. Dua patih buru-buru laporan ka raja.
Ari Ciung Wanara papanggih jeung Léngsér. Terus milu ka karaton. Nepi ka karaton, Ciung Wanara ngajak ngadu hayam ka raja. Duanana maké tandon. Lamun hayam Ciung Wanara éléh, tandonna nyawa Ciung Wanara. Sabalikna lamun hayam raja nu éléh, tandonna nagara sabeulah, sarta Ciung Wanara baris dijenengkeun raja tur diaku anak.
Gapruk baé atuh hayam téh diadukeun. Lila-lila hayam Ciung Wanara téh kadéséh, terus kapaéhan. Ku Ciung Wanara dibawa ka sisi Cibarani, dimandian nepi ka élingna. Gapruk diadukeun deui. Keur kitu datang Nagawiru ti Gunung Padang, nyurup kana hayam Ciung Wanara. Sanggeus kasurupan Nagawiru, hayam Ciung Wanara unggul. Hayam raja éléh nepi ka paéhna.
Luyu jeung jangjina Ciung Wanara dibéré nagara sabeulah, beulah kulon. Dijenengkeun raja sarta diaku anak ku Prabu Barma Wijaya Kusumah. Ari nagara anu sabeulah deui, beulah wétan dibikeun ka Hariang Banga.
Ku kabinékasan Ki Léngsér, Ciung Wanara bisa patepung deui jeung indungna nya éta Déwi Naganingrum.
Lila-lila réka perdaya Déwi Pangrenyep téh kanyahoan ku Ciung Wanara. Saterusna atuh Déwi Pangrenyep téh ditangkep sarta dipanjarakeun dina panjara beusi.
Hariang Banga kacida ambekna basa nyahoeun yén indungna geus dipanjara ku Ciung Wanara. Der atuh tarung. Taya nu éléh sabab sarua saktina. Tapi lila-lila mah Hariang Banga téh kadéséh ku Ciung Wanara. Hariang Banga dibalangkeun ka wétaneun Cipamali. Tah, harita kaayaan Galuh jadi dua bagian téh. Kuloneun Cipamali dicangking ku Ciung Wanara. Ari wétaneunana dicangking ku Hariang Banga”.

Saprak ngadangu eta carita kuring mendak elmu anu nyangkut paut daerah sorangan nyaeta Ciamis. Saentos ngupingkeun sajarah eta ti pamandu kuring mulang ka tempat karang pamidangan, nepi ka rorompok.kinten-kinten tabuh satengah.tilu.